Saturday, December 11, 2004

The Sea of Dolphins

Di suatu pulau yang tenang, di sana hidup sekelompok orang yang tidaklah terlalu modern, tapi paling tidak mereka tetap dapat mempertahankan hidup mereka. Hidup mereka sangat sederhana, kebanyakan dari mereka hanya bekerja sebagai nelayan, tapi mereka sangat menikmati kehidupan mereka itu. Pulau tersebut juga sangat indah, namun sayang sekali karena terlalu terpencil dan terlalu kecil, maka tidak ada satu orang turispun yang singgah ke sana. Sebenarnya pulau itu kaya akan alamnya, hanya penduduknya saja yang tidak tahu bagaimana cara memanfaatkannya. Bahkan cara mereka menangkap ikan pun masih naya menggunakan tombak bermata batu tajam, pokoknya seperti orang zaman dahulu sekali.

Hingga suatu saat, datang 5 orang asing ke pulau tersebut. Mereka berlima adalah petualang yang selalu mencoba untuk menemukan sesuatu yang baru. Mereka berlayar dari pulau yang satu ke pulau yang lain dan akhirnya sampailah lima orang itu di pulau terpencil tersebut. 5 orang itu terdiri dari sepasang suami-istri, seorang gadis, seorang pria muda petualang dan seorang professor yang lumayan tua. Kedatangan mereka berlima bagaikan titisan dewa yang turun dan sangat ditunggu-tunggu kedatangannya oleh para penduduk asli di pulau itu.

Pada awal kedatangan mereka, para penduduk asli sangat ketakutan sekali dan bahkan hendak memburu mereka. Tapi akhirnya mereka lambat laun mengerti, bahwa 5 orang itu adalah orang yang baik, bahkan mereka mengajarkan kepada penduduk asli itu untuk dapat hidup lebih baik. Mereka mengajarkan cara membuat perahu, jala, alat pancing sederhana, umpan, memakai dan membuat pakaian, memasak makanan yang lebih baik dan benar, mencari sumber makanan baru seperti kelapa, dan masih banyak lagi yang mereka ajarkan dan berikan pada pulau itu dan beserta penghuninya selama 10 tahun.

Yah, benar sekali, 10 tahun sudah mereka lewati bersama suka dan dukanya di pulau itu. Sampai anak sepasang suami-istri itu telah berusia 8 tahun. Dan sang gadis juga telah menikah dengan sang pemuda dan ia sekarang sedang mengandung anaknya yang pertama. Dan tentu saja sang professor sudah mulai mendekati ajalnya, bagaimana tidak, kini ia telah berusia 88 tahun dan sudah cukup banyak penyakit yang telah merasukinya. Ia sendiri pun telah menyadari tentang hal itu.

Suatu hari, saat matahari belum muncul, entah mengapa jiwa muda professor tiba-tiba muncul begitu saja. Mungkin karena ia sudah punya firasat bahwa hidupnya tidak akan lebih dari hitungan jari tangannya. Maka pergilah ia membawa perahu dan menarik layar sendirian. Tidak ada yang tahu bahwa ia pergi di pagi buta itu dan tak ada yang tahu ke mana perginya. Ia terus berputar-putar di laut sekeliling pulau itu. Banyak pulau-pulau kecil di sekitar situ yang ia singgahi, tapi sepertinya selalu tampak biasa-biasa saja baginya. Ia mencari sesuatu yang lebih dari itu.

Tiba-tiba saat ia berhenti di suatu tempat, di balik batu besar yang penuh lumut, ia tersenyum lebar. Entah apa yang dilihatnya, apakah ia melihat ke atas atau ke kejauhan, atau mungkin ia melihat ke bawah, menembus lautan yang sangat, sangat transparan dan berwarna biru bening bersih nun tenang. Pokoknya yang dilihat orang-orang saat ia kembali ke pulau kecil itu hanyalah senyumannya yang tersungging lebar di wajahnya yang ramah itu.

Orang-orang bertanya-tanya, apa gerangan yang telah ia lihat di laut lepas sana? Saat ia hendak menjawab, tiba-tiba suaranya tak mau keluar, nafasnya terasa sesak dan seketika itu juga ia terjatuh ke tanah. Orang-orang datang mengelilingi dirinya yang terbaring lemah di atas tanah. Akhirnya dengan seluruh tenaga yang telah ia kumpulkan terucaplah kata-kata misterius denagn senyum yang sangat ingin ia berikan, tapi karena sulit, maka senyum itu nampak seperti dipaksakan. Ia menunjukkan tangannya ke arah tadi ia melihat sesuatu yang membuat wajahnya berseri-seri, ke arah batu besar yang berlumut tadi. Lalu ia tersenyum dan berkatalah ia, “Ada lautan yang indah di sana. Pergilah dan cari tahulah apa yang ada di sana.” Sesaat setelah berkata, nafas terakhir dihembuskan oleh professor tua yang ramah itu, yang ditinggalkannya hanyalah sebuah kata-kata yang sengaja dibuat misterius olehnya dan senyuman lebar yang menghiasi wajahnya itu.

Begitu ia menghembuskan nafasnya yang terakhir itu, tanpa alasan yang tepat, batu berlumut itu tiba-tiba langsung retak dan pecah berkeping-keping lalu jatuh ke laut, seolah-olah hendak menyembunyikan tempat terakhir yang dikunjungi oleh sang professor. Keesokkan harinya, mayat professor dibawa kembali ke negri asalnya bersama dengan 2 pasang suami-istri dan seroang anak yang telah berusia 8 tahun. Sang professor dimakamkan di negri asalnya. Akhirnya mereka terus-menerus menetap di sana, sampai anak dari pasangan suami-istri muda telah berusia 3 tahun. Seperti ada suatu dorongan semangat baru, mereka kembali berlayar lagi ke pulau yang ditinggalkan itu bersama anak-anak mereka.

Sepertinya kata-kata misterius professor berulang kembali, bahkan sudah menyebar dari mulut ke mulut. Maka pulau yang tadinya sangat tidak dikenal itu, sekarang sudah menjadi sangat terkenal sekali. Pulau itu menjadi sangat penuh oleh turis-turis yang hendak melihat dan mencari tahu apa yang sebenarnya tersembunyi di lautan lepas sana. Banyak orang mengira-ngira, bahwa di lautan, di dasar lautan yang ditunjuk oleh professor terdapat harta karun yang terpendam. Tapi sudah banyak orang yang pergi ke sana dan mereka tidak melihat sesuatu yang istimewa dan gemerlap di sana, yang mereka lihat hanyalah ikan, air dan tetumbuhan laut yang hidup di sana.

Ketika mantan petualang itu kembali ke sana, mereka sangat terkejut sekali, mengapa banyak sekali orang yang ke sana. Pulau itu sudah bukan merupakan pulau yang tenang dan bersih seperti dulu lagi. Tapi mereka tahu, bahwa mereka tidak mempunyai hak atas pulau tersebut. Seluruh penduduk asli menyambut kedatangan mereka dengan penuh suka-cita, mereka sangat senang sekali dengan kehadiran dewa penolongnya dulu.

Mereka, mantan petualang itu bersama dengan anak-anak mereka, menginap di sana untuk 2 malam. Saat pagi-pagi sekali, keadaannya hampir sama dengan waktu sang professor pergi berlayar sendirian, mereka semua pergi mendayung perahu bersama anak-anak mereka. Mereka melakukan hal yang sma seperti sang professor, mereka pergi mendayung melewati pulau-pulau kecil yang ada di lautan tersebut sambil menikmati kesejukan udara laut dan merdunya suara deburan ombak. Tujuan terakhir sebelum sampai di pulau awal adalah tempat bebatuan lumut yang retak dan hancur pada hari kematiannya professor.

Para mantan petualang itu melihat ke dasar laut dan mereka tidak melihat apapun di sana. Saat sang balita kecil yang baru berusia 3 tahun itu hendak menyentuhkan tangannya yang mungil ke permukaan air, tanpa sengaja tiba-tiba perahu bergoyang dan anak kecil itu jatuh ke air, kedua orang tuanya menjadi sangat panik sekali. Tapi tiba-tiba segerombolan lumba-lumba muncul dari bawah, terlihat hampir seperti muncul dari dasar laut. Lalu salah satu lumba-lumba itu langsung berenang dengan cepat dan menangkap anak balita tersebut dan membawanya kepada orang tuanya yang di atas perahu berwarna kuning cerah itu. Mereka sangat berterima kasih kepada lumba-lumba itu.

Lalu entah mengapa, sang anak bukannya menangis, tapi malah tertawa dan bertepuk tangan, padahal tidak ada atraksi lumba-lumba di sana. Kemudian tiba-tiba anak dari pasangan suami-istri yang lebih tua itu berdiri dan lalu tersenyum lebar. Melihat keanehan itu, sang orang tuapun bertanya, “Kau melihat apa, Nak?” Sang anak menjawab, “Ibu, aya, berdirilah dan lihatlah!”. Maka seluruh orang yang ada di perahu itu berdiri dan tetap membuat keseimbangan. Dan, yap… sama! Mereka pun kemudian tersenyum lebar.

Apa yang sebenarnya mereka lihat? Oh… indahnya… ternyata mereka melihat segerombolan lumba-lumba dengan jenis yang bermacam-macam berenang di sana. Jumlahnya mungkin lebih dari 70 ekor, cantik sekali. Tapi bukan hnaya itu yang indah, kalau hanya itu mungkin baru terlihat indah oleh para pengagum binatang. Namun kali ini, lihatlah… puluhan ekor lumba-lumba yang berenang di dalam air yang jernih, bersih, kebiruan bening, terkena pantulan sinar matahari dan yang sungguh sangat indah adalah mereka terkena pantulan pelangi 7 warna. Cantik sekali! Lumba-lumba itu, semuanya. Mereka jadi berwarna-warni. Cantik sekali!

Semua keindahan itu hanya terlihat oleh mereka, professor dan rombongan para mantan petualang beserta anak-anaknya. Dan kata-kata misterius professor tetaplah misterius bagi mereka yang lain, sebab yang dapat mengungkapkannya hanyalah mereka saja. Berdasar atas keindahan itu, maka mereka, hanya mereka, menamakan perairan itu sebagai “The Sea of Dolphins”.

(15 December 2001)

The End



Salah Ingat Tanggal

Hari itu, tepatnya tanggal 28 April adalah hari ulang tahun Indah yang ke empat belas. Ia yang sekarang ini duduk di bangku kelas III SMP merasa senang sekali karena ternyata dari sejak tadi pagi ia bangun sudah banyak sekali orang yang memberi ucapan selamat padanya. Hal menyenangkan yang ia terima paling pertama adalah apa yang terjadi tadi pagi. Tadi pagi tiba-tiba saja pintu kamarnya digedor-gedor dengan teriakan mamanya yang panik seperti telah terjadi sesuatu. Maka Indah pun segera bangun dan membukakan pintu kamarnya, tapi ternyata yang dilihatnya pertama kali adalah bukannya wajah mamanya yang ketakutan melainkan sebuah kue tart kecil yang langsung dihadapkan tepat di depan wajahnya yang masih mengantuk itu. Di kue tart coklat itu tertuliskan, “Happy Birthday Indah” dan lalu ada lilin dengan angka “14”. Oh… betapa senang hatinya waktu itu. Lalu setelah mama dan papanya mengucapkan selamat, giliran kedua orang kakak laki-lakinya yang mengucapkan selamat padanya. Karena kejadian yang begitu menyenangkan itulah, ia pergi ke sekolah dengan wajah yang berseri-seri.

Tetapi ternyata hingga menjelang malam pukul sembilan, perasaannya masih belum juga bisa sreg dan tenang. Bagaimana tidak, hari itu pacarnya yang sudah jadian dengannya selama 2 bulan ternyata sampai saat-saat sebelum waktu tidurnya masih belum juga mengucapkan selamat padanya. Memang ia mengatakan pada seluruh teman-temannya untuk mengucapkan selamat padanya secara diam-diam, jangan sampai ketahuan sama Erik, pacarnya itu, sebab ia mau mengujinya apakah Erik ingat atau tidak dengan hari ulang tahunnya. Tapi ‘kan bukan berarti kalau ia tidak mau diberi ucapan selamat sayang dari pacarnya itu.

Indah pun jadi tidak bisa tidur. Ia masih berpikir akan adanya kejutan dari Erik. Ia berpikir mungkin saja Erik sebentar lagi akan datang dengan sebuket bunga di tangannya. Tapi ditunggu sebentar, sebentar, sebentar, dan semakin menjadi lama, Erik masih juga belum kunjung datang. Lalu ia melirik sebentar ke arah jam dinding berbentuk wajah Hello Kitty yang ada di atas meja belajarnya, ternyata sudah jam sepuluh malam. Maka harapannya mulai berkurang, sebab ia tahu bahwa jam malam Erik adalah pukul 22.30, sedangkan jarak dari rumah Erik ke rumah Indah menghabiskan waktu kurang lebih satu jam. Kemudian harapan terakhirnya adalah telepon! Segera dibawanya masuk telepon yang ada di ruang keluarga yang ada di depan kamarnya. Telepon itu diletakkannya di atas kasur dan ia pun menunggu sambil berbaring. Namun suara telepon tak kunjung juga berdering, sedangkan mata Indah yang sudah tidak kuat menahan rasa kantuknya pun mulai menutup dan Indah tertidur pada saat itu juga dengan melupakan segala beban yang ada.

Keesokkan paginya saat bangun, Indah langsung panik karena merasa ketiduran semalam itu adalah sebuah kesalahan, langsung dipanggilnya mbok pembantunya. “Mbok! Mbok! Sini, Mbok!” Maka datanglah si Mbok dengan cepatnya ke kamar Indah karena mendengar teriakan panik enon mudanya itu. “Iya, Non! Ada apa?” tanyanya.

“Mbok, semalam pasti kan tidurnya malam sekali. Nah, Mbok denger suara telepon gak?”

“Waduh! Maaf, Non! Mbok semalam memang tidur jam 12, tapi Mbok enggak dengar suara telepon sama sekali tuh!”

“Hah!?” seru Indah dengan wajah terkejutnya.

Berdasar seluruh kejadian pada tanggal 28 April itulah, pada hari itu tampang Indah suntuk sekali. Wajahnya murung sekali seharian. Di sekolah pun ia tidak gembira, bercanda dan bergosip bersama teman-temannya seperti yang biasanya ia lakukan.

“In, elo kenapa sih? Suntuk bener hari ini? Bukannya baru Sweet Pourteen kemaren?” tanya Lidya, salah satu teman segengnya.

“Dya! Gue pengen nangis deh rasanya! Lu bayangin, kemaren gue sama sekali gak denger suara Erik! Dan yah… lu tau lah apa artinya!” keluh Indah dengan wajah masih murung.

“Artinya dia gak nyelametin elo?” tanya Lidya dengan suara tinggi dan nada terkejut. Indah hanya bisa manggut-manggut saja.

Mendengar hal tersebut semua teman segengnya yang sedang duduk-duduk di dekatnya langsung menengok spontan ke arah Indah dan Lidya. Mereka melihat mata Indah sudah mulai berkaca-kaca lataran tidak kuat lagi untuk menahan rasa sakit di hatinya itu. Lidya yang berada di dekatnya langsung saja memeluk sahabatnya itu tanpa pikir panjang lagi, sedangkan teman-temannya yang lain ikut memberi semangat dan kata-kata untuk menghibur Indah. Perasaan mereka seperti sudah menyatu saja, wajah mereka semua ikut-ikutan sedih. Mungkin ini yang namanya senasib-sepenanggungan.

Kebetulan saja hari itu Erik sedang tidak masuk sekolah, sehingga indah tidak perlu bertemu dengannya. Tapi ternyata keesokkan harinya Erik sudah masuk sekolah.

“Halo, In!” sapa Erik. Tapi Indah yang masih memendam rasa sedihnya itu tidak membalas sapaan Erik dengan jawaban apapun. Ia langsung pergi tanpa melihat wajah pacarnya. Erik yang merasa aneh pun langsung mengejarnya.

“Indah! Kamu kenapa sih? Lagi marah yah sama aku? Emangnya aku ada salah apa sama kamu? Kalo ada salah bilang dong, jadi’kan aku bisa perbaikin.”

“Aku gak perlu bilang salah kamu apa dan aku juga gak akan mau bilang! Yang ada juga mah, kamu koreksi diri sendiri!” Lalu Indah langsung pergi begitu saja. Erik pun menjadi bingung, tapi ia sendiri tidak mau ambil pusing.

Seiring dengan berjalannya waktu, Indah pun dengan lapang dada mau memaafkan Erik, walaupun hingga saat itu Erik masih juga belum menyadari apa kesalahannya.

Akhirnya waktu telah berjalan tepat satu bulan lamanya sejak kejadian waktu itu. Sekarang tepat tanggal 28 Mei. Baru saja Indah datang dan masuk ke kelas, di mejanya sudah ada sebuah bingkisan kado kecil dengan pita berwarna merah yang membungkusnya. Di sebelah kanan bingkisan itu terdapat setangkai mawar merah dengan sebuah kartu kecil yang ada di atasnya. Indah merasa curiga dengan apa yang ada di atas mejanya itu karena ia merasa tidak ada yang spesial darinya di hari itu. Lalu ia membuka kartu ucapan kecil dan membacanya dalam hati. Betapa terkejutnya ia setelah ia membaca isi kartu itu. Bagaimana tidak, kartu itu bertuliskan kata-kata seperti ini, “Dear, Indah. Happy Birthday! Sweet Fourteen yah? Yah, pokoknya selamat aja! Semoga kamu makin cantik dan pinter. And semoga kita makin awet. Love, -me-“. Dalam hatinya, Indah merasa sangat ganjal. Ia berpikir bahwa ini adalah suatu ucapan selamat yang kadaluarsa sekali, ia juga menduga-duga kalau ini adalah hanya kerjaan orang yang iseng saja. Tapi tak lama kemudian Erik datang ke mejanya dengan wajah berseri-seri.

“Gimana, In? Suka gak sama Rose-nya? Loh, kadonya belom kamu buka? Bagus, loh!” kata Erik sambil memasang senyuman paling manis di wajahnya.

Tapi mendadak wajah Indah jadi memerah semua. Perasaan yang ada di dalam kepala dan hatinya bercampur aduk menjadi satu tidak karuan. Ia langsung berdiri dan berteriak ke arah muka Erik dengan suara yang tidak bisa dibilang kecil.

“Huh! Kok bisa-bisanya sih kamu dateng ke aku hari ini dengan kado ulang tahun? Aku ini umurnya udah empat belas tahun lewat satu bulan! Aku ini ulang tahunnya sebulan yang lalu, tepat tanggal 28! Emangnya apa sih yang kamu pikirin? Aku pikir kamu waktu itu bener-bener lupa karena suatu alasan yang tepat, makanya aku dengan mudah mau maafin kamu! Tapi nyatanya kamu nganggep aku ulang tahunnya hari ini! Emang sebenernya hari ini itu ulang tahun siapa sih? Aku yakin kamu pasti salah ingat tanggal! Atau mungkin tanggal aku ketuker sama orang lain! Hah?!”

Tiba-tiba baru saja Indah selesai mendamprat Erik habis-habisan, masuk seorang cewe’ ke dalam kelas dan mendekati mereka berdua. “Hai, Indah! Erik! Aku pikir kamu ke mana? Ternyata kamu ada di sini, yah? Tadi aku nyariin kamu karena aku berpikir kenapa kamu belon juga dateng-dateng ke aku untuk ngasih …… SELAMAT ULANG TAHUN KE AKU!!” Erik semakin berkeringat dingin saja. Ternyata setelah mereka bertiga berbicara panjang lebar. Erik pun mengaku kalau ternyata ia mendua. Rupanya ia lupa dan kebalik soal tanggal ulang tahun kedua pacarnya. Seharusnya Lianny, pacar keduanya yang berulang tahun di tanggal 28 Mei, tapi Erik mengingatnya Lianny berulang tahun tanggal 28 Juni. Sedangkan Indah yang seharusnya berulang tahun tanggal 28 April, seingat Erik ia berulang tahun tanggal 28 Mei, maka terjadilah insiden ini. Dan sebagai ganjaran untuk Erik karena mendua adalah ia diputusin oleh dua orang cewe’ tepat pada tanggal 28!

**Made in 2002, based on true story (but not mine!)

The End

Sepi

Malam itu begitu dingin, angin bertiup sangat kencang, dan hujan pun mulai turun dengan derasnya. Pada saat-saat seperti itu Angelina malah harus duduk diam di mobilnya yang melaju sangat kencang sekali di jalan yang sepi dan penuh dengan genangan air yang semakin bertambah tingginya. Ia harus duduk di mobil sedan miliknya untuk mengantar ibu tirinya yang akan segera melahirkan itu ke rumah sakit terdekat. Ia sendiri tidak begitu senang dengan ibu tirinya itu.

Keadaan di dalam mobil juga tidak begitu baik untuknya, ayahnya duduk di depan setir untuk mengemudikan mobil dengan kecepatan yang cepat, ibu tirinya yang duduk di samping ayahnya selalu saja merintih kesakitan dari tadi dan hal tersebut membuatnya kesal, lalu kakak tirinya yang bukan berasal dari ayahnya duduk di bangku belakang sebelah kanan dengan perasaan tidak terlalu cemas pada ibunya, sedangkan Angelina sendiri duduk di sebelah kiri kakak tirinya itu sambil termenung dengan pandangan mengarah ke luar jendela mobil. Lalu lama-kelamaan Angelina mulai menyadari kalau banyak yang terjadi di luar sana. Dalam setengah perjalanan menuju ke rumah sakit ia melihat cukup banyak pejalan kaki yang kesal dan memaki-maki mobilnya yang melaju di jalan bergenangan air itu dengan sangat cepat. “Pasti mereka kecipratan air!” pikirnya. Lalu ada juga yang terlihat sedang berteduh di halte bis, ada pula yang tetap memaksakan dirinya untuk terus melaju di tengah hujan deras baik dengan sepeda maupun dengan sepeda motor, tapi yang jelas semuanya nampak tidak menyenangkan baginya yang masih berusia 7 tahun kecuali lampu-lampu jalanan yang nampak begitu cantik di bawah berkas titik-titik air hujan yang berjatuhan.

Sesampainya di rumah sakit ibu tirinya langsung dibawa ke ruangan untuk melahirkan. Sementara ayah dan ibu tirinya masuk ke dalam ruangan itu, Angelina dan Ronald, kakak tirinya yang usianya 2 tahun lebih tua darinya ; duduk menunggu tanpa perasaan apa-apa di bangku tunggu yang ada di depan ruangan tersebut. Mereka berdua tampaknya sama sekali tidak mencoba untuk membuka suatu pembicaraan, mereka berdua benar-benar membisu satu sama lain. Akhirnya setelah lama waktu berjalan, yang ditunggu-tunggu keluar juga. Ayah Angelina keluar sambil menggendong seorang bayi dan lalu ia berseru, “Anak laki-laki yang tampan seperti ayahnya!”.

Kini sudah 3 tahun berlalu sejak kelahiran adik tirinya dan kini Angelina sudah berusia 10 tahun. Sejak kedatangan keluarga baru di rumahnya Angelina sudah menduga bahwa ia akan semakin tidak betah untuk tinggal di rumahnya sendiri. Dan benar saja, sekarang kelakuannya makin tidak karuan, walau ia baru duduk di kelas 5 SD namun kelakuannya sudah sangat buruk. Di sekolahnya ia sering mendapat keluhan dari guru-gurunya juga dari teman-temannya, lalu ia juga jarang ada di rumah mungkin juga dikarenakan ia kurang mendapat perhatian di rumahnya. Maklumlah, ayahnya bekerja dari pagi hingga malam sekali dan ibu tirinya masih terlalu sibuk untuk mengurusi anak balitanya itu, sedangkan kakak tirinya yang sudah duduk di kelas 1 SMP lebih senang bercanda-ria dengan teman-temannya di telepon. Ia nampak begitu kesepian dan sedih sekali.

Masa kanak-kanaknya selama di SD ia lewatkan begitu saja tanpa sebuah kenangan indah satupun. Waktu pun berjalan terus tanpa memperdulikan apa kesedihan para manusianya yang selalu mengikutinya berputar dari detik ke detik. Tak terasa Angelina sudah memasuki masa-masa terindahnya seorang remaja, SMU! Namun peristiwa yang dulu menghinggapinya sewaktu di SD masih terus setia mendampinginya, bahkan semakin buruk. Setiap kali ada temannya yang mau mengajaknya untuk mengobrol, ia selalu menghindar. Akhirnya teman-temannya pun sudah cukup lelah untuk membantunya dalam berinteraksi dengan orang-orang di sekelilinginya, begitu pula halnya dengan para gurunya yang sudah angkat tangan untuk membantunya. Maka kejadian yang dulu pun berulang lagi, ia mulai dijauhi teman-temannya dan ia sendiri tidak pernah mau mencoba untuk berucap kata-kata. Sedangkan di rumahnya sendiri masih tidak ada perubahan, malah lebih buruk, tidak ada yang memperhatikannya. Ia bukannya bisu, tapi karena menurutnya walau bicara tak akan ada artinya ; misalnya waktu ia menanyakan kepada ayahnya dapatkah ayahnya itu untuk meluangkan waktu satu jam saja untuk menemaninya. Lalu ayahnya menjawab, “Angel-ku sayang, bukannya ayah tidak mau menemanimu, tapi karena ayah sangat sibuk sekali dengan pekerjaan ayah. Ini semua ayah lakukan untuk menghidupi keluarga ini, juga untuk dirimu.”

Tak lama setelah ia memasuki masa kuliahnya, ia mulai sakit-sakitan. Banyak orang yang mengkhawatirkannya, termasuk ibu tirinya, namun ia masih tetap pada pendiriannya yang sempit bahwa tak ada satupun orang di dunia ini yang memperhatikannya. Akhirnya pada saat usianya genap 20 tahun, Angelina harus menerima malang yang tak bisa ditolaknya. Hingga akhir hayatnya wajahnya pun masih tampak SEPI !

(made in 2002, gila nich cerita bener2 deh... ada kemiripan gak sama cerita : Kado Spesial di Hari Spesial ??? Saya bikin nih 2 cerita dalam 1 hari yang sama, padahal hari itu lagi gak sendu...)


The End

Virus

Virus, pada zaman sekarang ini sudah terlalu banyak orang yang meneliti tentang virus dan itulah yang terjadi. Ada dua orang peneliti suami-istri di daerah Arizona yang bersuhu cukup tinggi. Sang suami yang tiap harinya berada di ruangan lab. dan sang istri yang setiap harinya selalu setia menemani sang suami dalam berbagai macam penelitian dan percobaan.

Sang suami bernama Roger Lewinszky dan sang istri bernama Chatarina Lewinszky. Kedua peneliti ini sama-sama memiliki gelar kedokteran dan telah hidup bersama kira-kira lima tahun lamanya dan sampai sekarang masih belum juga dikaruniai anak. Saat ini mereka sedang meneliti sebuah jenis virus yang sudah lama ditinggalkan.

Virus ini bernama ‘ebola’. Virus tersebut merupakan virus yang sangat mematikan, serangannya berlangsung sangat singkat dan dapat membunuh semua sel yang hidup hanya dalam waktu paling lama dua minggu. Virus ‘ebola’ tersebut pernah mewabah di daerah Zaire, Afrika. Virus ini biasanya menyerang jenis kera yang dinamakan ‘Virus ebola-Reston’, kera tersebut sebenarnya tidak akan mati hanya saja karena terkena gejala malas, ngantuk, dan tidak mau makan , sehingga kera itu lambat laun akan mati.

Suatu saat sewaktu Chatarina sedang melakukan penelitian sendirian di ruang lab.-nya tanpa sengaja virus yang telah dikristalkan*1 itu menjadi mencair karena ketumpahan suatu cairan kimia dan virus yang telah lama dikristalkan itu menjadi hidup dan aktif kembali. Tanpa menunggu waktu lagi virus tersebut langsung menjangkiti Chatarina.

Waktu Roger pulang ke rumah dan melihat istrinya sudah terkapar di lantai dengan tanpa menggunakan baju steril (sejenis pakaian astronout) dan seluruh bagian tubuh dan wajah sang istri sudah sangat memprihatinkan sekali. Seluruh tubuhnya seperti sudah kehilangan darah sama sekali, ia kelihatan sangat-sangat pucat sekali. Namun ia sebagai seorang ahli tidak langsung mengeluarkan istrinya dari ruangan lab. tersebut. Diambilnya sedikit darah istrinya sebagai darah contoh, lalu ditidurkannya Chatarina di tempat tidur steril yang ada di ruang lab. mereka.

Setelah cukup lama diteliti akhirnya Roger menyadari bahwa istrinya itu telah terserang virus yang paling ganas, ‘ebola’! Langsung segera ia pergi ke laboratorium di tempatnya bekerja, lalu ia meminta bantuan dari beberapa teman-temannya. Maka pergilah mereka semua ke rumah Roger. Sampai di sana salah seorang temannya ada yang tidak percaya bahwa virus yang telah begitu lamanya terpendam dalam kristalan dapat aktif lagi dan menganggap kalau itu hanya cerita bualan Roger untuk mengelbui teman-temannya itu.

Temannya Roger itu langsung membuka tempat tidur steril tempat di mana istrinya itu berbaring. Dan karena ia begitu terburu-buru hingga tidak menggunakan baju steril, maka hanya dalam kurang lebih 1 menit gejala-gejala langsung saja muncul dalam dirinya. Tiba-tiba saja tenggorokkannya seperti tersumbat, ia menjadi sangat sulit untuk bernapas. Lalu dari lubang hidungnya keluar darah dan dengan seketika wajahnya sudah pucat*2. Karena tidak tahan maka ia berlari keluar ruangan lab. tanpa berpikir panjang lagi walau telah dicegat oleh teman-temannya itu. Padahal bila ia keluar dari ruangan lab., virus itu akan langsung menyebar kemana-mana.

Wah, ini baru yang namanya super gawat! Virus itu akan menjangkiti seluruh warga Arizona hanya dalam waktu 24-48 jam. Apa saja yang berupa sel hidup akan dihinggapi oleh virus tersebut dan dengan daya menghancurkan se-per-seribu detik, maka semua warga Arizona akan cepat menghilang.

Dalam sekejap saja korban-korban mulai berjatuhan walau beberapa orang medical telah diberitahu agar memakai baju steril dan menyuntikkan vaksin agar ada orang yang mampu untuk mengobati/merawat korban-korban itu. Dan dalam sekejap pula semua rumah sakit-rumah sakit telah penuh oleh pasien-pasien yang terkena virus ‘ebola’ ini.

Roger tentu saja merasa sangat bersalah sekali sebagai orang yang melakukan penelitian itu. Ia sangat mengkhawatirkan istrinya dan juga seluruh warga kota Arizona. Ia dan beberapa orang temannya yang masih sehat itu telah terus mencoba untuk menemukan obat atau lebih tepat dikatakan serum untuk menyembuhkan para korban.

Telah mereka coba untuk menggunakan cairan kimia yang tak sengaja tertumpahkan oleh Chatarina. Mereka telah mencoba sejuta cara tapi tetap saja belum dapat diketemukan dan mereka sudah mendekati keputus-asaan. Di saat-saat itu, Roger datang mendekati istrinya yang telah terkapar lemah itu lalu menggenggam tangannya erat-erat dan karena ia telah putus asa maka ia membuka sarung tangan sterilnya. Ia berpikir paling tidak istrinya tidak akan pergi ke surga sendirian.

Pada saat Roger menggengam tangan istrinya, ia merasakan ada luka kecil pada jari Chatarina. Mendadak ia langsung berdiri seakan-akan telah mendapatkan jawabannya. Lalu ia pergi ke tempat saat ia menemukan istrinya dan ia melihat-lihat di sekitar lantai dan ia menemukan segumpal darah yang sudah hampir mengering. Ia mengambilnya dan menelitinya. Dan ternyata DNA/RNA darah tersebut sama dengan milik istrinya itu.

Ia lalu mengambil beberapa cairan serum, cairan kimia, dan obat juga darah istrinya yang masih bersih (yang mengering di lantai). Kemudian ia melakukan beberapa kali percobaan singkat dan akhirnya setelah ia benar-benar yakin, dicobakannya cairan serum buatannya itu pada istrinya kondisinya sudah semakin parah. Namun setelah disuntikkan cairan serum tersebut keadaan istrinya langsung berangsur-angsur menjadi pulih.

Betapa bahagianya hatinya itu, lalu ia menyuntikkan sedikit serum tersebut pada tubuhnya sudah mulai melemah itu. Setelah kondisinya sudah lumayan pulih, ia segera meminta istrinya itu untuk mendonorkan darahnya walau tidak sampai setengah kantung yang biasa yang dipakai di palang merah karena istrinya juga baru saja sembuh. Cairan itu kemudian dikembangkan dengan beberapa cairan lainnya sehingga terbentuk dalam jumlah yang cukup untuk semua warga Arizona yang terkena wabah virus tersebut, tentu saja dengan bantuan seluruh temannya yang tadinya juga sempat putus asa karena takut tidak mampu menemukan penawarnya.

Akhirnya seluruh cairan serum itu disebarluaskan di seluruh rumah sakit yang ada di Arizona. Hingga akhirnya habislah virus ganas itu. Menurut pernyataannya kepada beberapa media, serum itu dibuat atas dasar benda/cairan/molekul/sel pembuat aktifnya virus ‘ebola’ tersebut, yaitu sel darah istrinya, Chatarina. Sel darahnya yang merupakan sel hidup yang terdiri dari DNA/RNA yang hidup yang diperkirakan menetes pada kristalan virus, telah membuat virus tersebut menjadi hidup dan aktif kembali.

Setahun kemudian, akhirnya keinginnan mereka berdua yang telah lama terpendam menjadi terkabulkan. Akhirnya Chatarina mengandung dan melahirkan sepasang anak kembar yang sehat, yang satu laki-laki dan yang satunya perempuan. Mereka telah bertekad bahwa setelah kejadian itu, mereka tidak akan melakukan hal apapun lagi yang berhubungan dengan penelitian. Katanya mereka tidak mau membuat masalah lagi, apalagi masalah besar seperti virus ‘ebola’ itu. Mereka hanya akan menganggapnya sebagai sejarah hidup mereka.


*1 virus dapat dikristalkan dan saat dikristalkan, virus menjadi tidak hidup/ tidak aktif.
*2 gejala-gejala bagi manusia yang terserang ebola.


(sekitar tahun 2002, waktu itu sempet nonton semacem film yg ada virusnya gini, terus begitu belajar biologi~virus di kls I smu, baru tau kalo film itu tuh ternyata berhubungan dengan ebola.)


The End

Wednesday, December 01, 2004

Kado Spesial di Hari Spesial

Apakah permintaan maaf saja itu sudah cukup? Kata-kata tersebut terus teriang-iang di kepalaku. Aku masih tidak habis pikir bagaimana ia dapat berkata seperti itu kepada keponakannya sendiri? Padahal apa yang terjadi tadi adalah suatu tindakan ketidak-sengajaan. Aku tidak mungkin sampai hati untuk menumpahkan teh panas itu di atas gaunnya yang putih bersih itu secara sengaja.

Mungkin memang ini sudah menjadi takdirku untuk selamanya menjadi seorang pelayan yang bekerja di rumah tantenya sendiri. Aku sendiri tidak tahu mengapa orang tuaku meninggalkan aku di depan rumah tanteku saat aku masih berusia tujuh tahun. Apa mereka tega membiarkan aku seperti ini terus-terusan dalam waktu hampir tujuh tahun? Aku sendiri berpikir, bahwa mereka sebenarnya tidak mempunyai maksud jahat, yang kupikirkan hanya hal-hal yang positif saja. Hanya itulah kekuatanku hingga saat ini.

Bulan yang akan datang usiaku akan menjadi sangat spesial, aku akan berusia tujuh belas tahun. Tapi mengingat statusku yang rendah ini rasanya tidak mungkin aku akan mendapat ucapan selamat spesial dari teman-temanku, apalagi di sekolah pun aku mendapat perlakuan yang sama seperti apa yang kuperoleh di rumah tanteku ini. Apa mungkin hal tersebut dapat terjadi karena aku sudah terlalu terbiasa untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan seorang pelayan, yah? Kalau diperhatikan hal itu mungkin juga, pernah ada suatu kejadian seorang teman disirami air karena ia berulang tahun, eh tiba-tiba saja secara refleks aku malah langsung mengambil kain pel dan membersihkan tumpahannya di lantai dan setelah itu aku malah langsung diejek dan ditertawakan oleh semua teman yang ada di sana. “Memang pekerjaan sehari-hari sih yah?” ejek salah satu temanku. Yah, mereka memang tahu kalau aku bekerja sebagai pelayan di rumah tanteku.

Ingin tahu bagaimana kisahku bisa menjadi seorang pelayan di rumah tanteku sendiri? Kisahnya sungguh bodoh dan singkat sekali. Saat pertama kali aku sampai di depan rumah tanteku itu, ia ang masih memimpi-mimpikan seorang anak sangat menerima kehadiranku dengan sukacita. Keadaan ini terus berlangsung selama empat bulan karena setelah itu ia mulai mengandung anaknya, aku mulai kurang diperhatikan. Setelah anaknya lahir, aku mulai dicampakkan olehnya dan setelah anaknya berusia dua tahun, ia menganggapku sebagai pengganggu. Dan ia yang telah menganggapku sebagai hama menyebalkan akhirnya menjadikanku menjadi seorang pelayan di rumahnya.

Jadi, bagaimana? Cerita ini konyol bukan? Menurutku hati seorang manusia memang sulit untuk ditebak. Seperti halnya tanteku itu, ia dulunya baik padaku, tapi sekarang…. ia sangat kejam padaku. Sudah acap kali aku dimarahi dan dipukul, bahkan disiksa oleh tanteku itu, ditambah lagi dengan perlakuan seluruh orang yang ada di sekitarku yang selalu merendahkanku. Yah, memang aku tidak ada bagus-bagusnya, wajahku jelek, badanku kurus ceking, otakku pun ikut-ikutan bodoh sampai-sampai para guru di sekolah sangat kesal menanganiku. Sepertinya aku ini menanggung dosa yang amat besar di kehidupanku yang sebelumnya, hingga sekarang aku menjadi makhluk yang paling rendah di antara yang rendah. Hhh…. rasanya aku sudah tidak mampu lagi untuk hidup di dunia yang penuh penderitaan ini.

Waktu terus berjalan dengan cepatnya, begitu pula dengan rentetan peristiwa-peristiwa membosankan yang mambuat aku terlihat menjadi semakin renah seperti biasanya. Tak kusangka hari ini adalah hari spesial yang telah kunantikan sejak bulan lalu. Pagi ini aku dengan perasaan yang senang, riang, dan seolah tak perduli dengan apapun yang akan terjadi nanti. Aku tak perduli bila nanti orang-orang malah akan mengejekku bila nanti aku akan membeli kue dan lilin untuk kurayakan sendiri, karena seperti biasanya diriku yang sudah kebal akan ejekan, semua hal tersebut hanya aku lalui dengan tiga hal, yaitu ketabahan, pikiran yang positif dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tepat saat aku sedang menyebrangi jalan menuju ke sekolah, aku mendapat sebuah kado yang sungguh sangat spesial bagiku. Kado ini sudah kunanti-nantikan sejak dahulu, sejak masa penderitaanku dimulai. Aku mendapat kado dari malaikat-malaikan Tuhan, tapi aku rasa mereka hanya sebagai perantara pemberi kado sedangkan sesungguhnya kado tersebut diberikan oleh Tuhan sendiri. Akhirnya setelah sekian lamanya nasib mempertemukanku dengan orang tuaku. Aku merasa sungguh sangat senang sekali. Ohh… terima kasih, Tuhan. Aku segera berlari memeluk orang tuaku yang ada di seberang sana.

“Ma! Mama! Lihat ini ada berita di koran!”

“Ada apa sih, pagi-pagi begini sudah berisik kamu?”

“Ma, lihat! Ini kan foto si pelayan kita itu.”

“TELAH DITEMUKAN MAYAT SEORANG GADIS YANG TERPENTAL KE PINGGIR JALANAN, DIDUGA KARENA KECELAKAAN LALU-LINTAS YANG MENGENASKAN”

The End

Momen di Hari Hujan

Namaku May dan aku mengalami perjalanan hidup yang sangat unik bagiku karena segala sesuatunya terjadi hanya dalam 1 hari yang basah. Semuanya bermula dari kejadian 5 tahun yang lalu saat aku masih di tahun ke-2-ku di universitas.

Hari itu hujan lebat sekali ketika saatnya aku pulang dari kampus. Karena malas pulang, maka kuputuskan untuk duduk-duduk dulu di kafetaria yang letaknya di sebelah kampusku. Sambil minum lemon tea, aku menyapa orang-orang yang kukenal di sana. Lalu tiba-tiba ada seorang senior yang datang menghampiriku, ia temanku. Setelah berbasa-basi sebentar, ia lalu memperkenalkan temannya yang ternyata adalah cowok paling populer di kampus. Luar biasa senangnya perasaanku waktu itu. Sejak saat itu, kami pun menjadi dekat dan sering bicara lewat telepon dan pergi bareng. Sampai suatu hari yang cukup mendung, aku baru pulang dari mengerjakan proyek bersama teman-temanku dan lelahnya bukan main rasanya. Baru saja aku sampai di kamarku, yang merupakan kamar atap, tiba-tiba ada suara nyanyian seseorang dari luar sana. Karena sedang kelelahan, kubuka jendela kamar dengan kesalnya. Tapi sungguh tak kusangka, ternyata itu dia, cowok paling populer di kampusku yang belakangan ini dekat denganku. Ia berpakaian amat rapi, memainkan gitar, menyanyikan sebuah lagu dan membawa sebuket bunga mawar yang diletakkan di atas motornya. Tiba-tiba ia berteriak dari bawah sana, “May, aku sayang kamu. Kamu bersedia gak jadi pacarku?”. Selesai ia berteriak, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Aku pun dengan wajah memerah segera berlari ke bawah dan tanpa mengambil payung, aku berlari keluar dan memeluknya. Saat itu juga adalah detik pertama dari hubungan pacaran kami dimulai.

5 tahun kemudian, pacarku mengajakku tunangan. Kami mengadakan pesta kebun untuk merayakannya dengan dimandikan oleh cahaya lilin, sungguh romantis kalau mengingatnya. Banyak teman-teman SMU, kuliah dan kerja yang diundang juga, selain kerabat dekat. Saat akan memotong kue pertunangan kami, tiba-tiba terdengar suara guntur. “Oh, tidak! Lagi-lagi hujan!” seruku. Kami semua segera berlari masuk ke dalam rumah sebelum hujan turun. Akhirnya semua lilin mati dan kuenya pun basah, aku hampir saja menangis, tapi menyadari itu tunanganku langsung memelukku.

Tibalah saat-saat yang paling kunantikan seumur hidupku, beberapa bulan yang lalu akhirnya ia melamarku dan hari ini adalah hari pemberkatan nikahnya di gereja. Aku sudah mengenakan gaun pengantin yang panjang sekali dan nampak indah padaku. Semua undangan telah datang, aku pun berjalan ke depan altar dengan anggunnya dan dengan perasaan bangga. Tapi kemudian, semuanya nampak seperti bencana bagiku. 1 jam kutunggu kedatangan pengantin pria, tapi ia tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Berbagai macam pikiran yang tidak-tidak mulai menghantuiku. Akhirnya 15 menit kemudian ia datang, tapi pakaiannya sungguh tidak formil. Lalu aku berlari mendekatinya, namun tiba-tiba langkahku terhenti, sebab di ambang pintu yang terbuka itu ia berseru, “May, maaf, aku tidak dapat menikahimu.” Saat itu juga terlihat ada petir menyambar di luar gereja dan hujan pun mulai turun. Aku sudah mulai lelah dengan melihat turunnya hujan. Ia pun melanjutkan, “Sebenarnya aku dipaksa untuk melamarmu oleh orang tuaku, sebab sejak 1 tahun yang lalu aku mulai mencintai gadis lain. Maafkan aku, May! Aku yakin kamu akan menemukan pria lain yang lebih layak daripada aku.” Lalu ia berlari keluar begitu saja, aku berlari keluar mencoba mengejarnya. Tapi kemudian tubuhku kaku karena melihat ada seorang gadis manis menunggunya di mobil yang baru saja ia masuki. Ia membawa mobilnya pergi dan aku seperti orang bodoh di bawah siraman air hujan. Kudengar orang-orang di dalam gereja memanggilku untuk segera kembali, tapi kuacuhkan semuanya itu. Aku duduk di atas kursi taman di halaman gereja sambil menangis dan mendinginkan kepalaku di bawah dinginnya air hujan.

Tiba-tiba ada seorang laki-laki berlari keluar menghampiriku, aku sama sekali tidak mengenalnya. Ia lalu menutupi kepalaku dengan jas hitamnya dan membawaku masuk sambil merengkuhkan tangannya yang kokoh di pundakku yang rapuh. Aku merasa sangat kesal dan sedih, serta merasa malu dengan seluruh undangan yang hadir. Akhirnya hari menyedihkan itu pun berakhir dengan air mata.

Tapi sejak saat itu, aku jadi dekat dengan pria yang menolongku dalam hujan itu. Ia terus menghiburku, membantuku melupakan apa yang telah terjadi dan membuat aku menjadi ceria kembali. 4 tahun kemudian, tibalah hari perikahan kami. Aku menjadi deg-deg-an dan takut semuanya akan terulang kembali. Ditambah lagi dengan turunnya hujan di luar gereja dan sudah 10 menit ia terlambat. Aku sudah akan menangis, tubuhku terasa lemas, tapi ibuku terus menenangkanku. 5 menit kemudian, pintu gereja terbuka keras dan aku semakin deg-deg-an, napasku seperti tertahan sebentar saat ia menyerukan, “Semuanya, maaf! Tadi ada kemacetan di jalan. Upacara akan segera dimulai!” Lega rasanya dapat menghembuskan seluruh napas yang tertahan tadi dan senyum pun tersungging manis di wajah seluruh orang di dalam gereja pada hari itu.



The End

I Hate Being Betrayed

It has been a year since my last meeting with him. I can still remember how it happened. I just got back from Hawaii where I finished my hospitality education. My mother surprised me with the news she brought, that is my wedding plan with a son of my dad’s friend. I immediately said No! How could I say Yes? I just stepped one foot in front of the main door of our house and suddenly my mom greeted me with the news that sounded more like a storm for me.

I locked myself in my bedroom until the dinner time. My dad started the dinner with a pray. During the dinner, my dad started the conversation with an easy chat until the dessert time, and then he began to talk about marriage.

“Reese, I think you are mature enough to get married soon”, he said.

While he was taking, I cut his sentence with a loud voice, “Dad! I don’t want to marry a guy that I haven’t even seen!”

“Oh, Honey. You will meet him soon and you can know each other much better before both of you get married”, said my mother.

“He is such a good man and he is a doctor”, added my dad.

“Uuh!! I’m finished!” Then I left the dining room. I didn’t want to make an arguement with them.

On the following day, I was told that we would have dinner with my future husband in a restaurant. When the dinner time came, I tried to put myself in an informal clothes. I wore black pans, black t-shirt and a white scarf. My mom had a dislike for my chosen clothes that night when she saw me walking out of my dressing room. Before she started with her comments, I said, “Don’t ask me to change my clothes if you want me to go to the restaurant!” And she kept quiet.

It was my first meeting with him. I didn’t respect neither his parents nor him very much. I only tried to be polite and I thought that would be enough for my parents.

“Hello! I’m Phil”, he greeted me when we shook hands.

“I’m Reese”, I said.

I couldn’t say that it was a nice dinner because Phil always tried to start a conversation with me, but I always tried to stop it. After having a long dinner, we said goodbye each other and went home.

I was shocked when I got home. Phil was waiting for me in front of the gate. Then, he asked my parents politely to take me out for a walk. Of course, my parents allowed us to go. I couldn’t refuse it, that’s what I’ve learnt in my college in Hawaii, ‘never refuse a polite offer from someone’. We went for a walk and it was something that I could never forget for a long time. He took me to a very beautiful place in town. It was up on a hill where we could see the beautiful sight of town at night. We sat on a glass chair which made me feel as if I had been in a fairy tale story. He started the conversation with some simple questions, asking me how old I was, what my hobbies were, if I had ever had a boyfriend and many more. I didn’t know why, but I really felt comfortable for having a chat with him. He was so polite and gentleman. Then, he told me about his old love story and I had to admit that I felt sorry for him. He said that he almost married a girl that he loved very much. But, the girl left him for no reason. And after that, he never wanted to start a love story again until he met me that night. After listening to his story, I almost made my tears came out. Before I could take a tissue from my handbag, he hugged me tightly until I couldn’t say a word. I can still remember what he whispered before he kissed me that night. “I want to start a new love story with you. Help me with it please..” Hhh…. It was my first romantic night ever.

We had wonderful days, spent together. Until bad news came.

One afternoon, he told me that he had to go to California to broaden his knowledge in medical science. Agreed with his plan for the good of his future, although I felt doubt about my decision. He went for California the following day and it was the last time I met him.

A year had passed. He never either called me or sent me an email. I missed him very much. Then, a crazy idea occurred to my mind. “What about if I go to California and give him a surprise?” After a long discussion with my parents, I left for California.

I said to myself, “Wait for me, Phil, I am coming to you”, At last I arrived in California. After checking in at the hotel and putting my entire luggage in the hotel room, I went down to the lobby and asked the bellboy to get me a taxi. I thanked the bellboy and gave the taxi driver the address. It wasn’t so far from the hotel. We arrived in front of a big flat near a beautiful beach after taking a fifteen minute trip. I paid the taxi driver, thanked him and he drove away. I looked straight to the beach and relized that the sun was setting. How beautiful it was! After a few minutes looking at the setting sun, my thought flew back to an old romantic memory, but then I remembered what my purpose there was. With all my conviction, I walked into the lobby. With a smile, I pressed the lift button up.

I said to myself, “Here I am, room number 635”. I knocked at the door and waited for an answer. Soon, I heard a step inside and it was getting closer. I felt so nervous to meet him again.

The door was opened and I saw a girl in her night gown, “Yes? Can I help you?”, she asked me.

“Ermm…. Is this Phil Blush’ apartment?” I asked her. I felt doubtful for a few seconds, but then I was sure that there was a guy looking at me inside and I knew he was Phil. “Ohh… what is going on here?”, I said to myself.

“Reese? Is that you?” he asked loudly from inside.

“Phil…” my voice was shaking and tears started to drop across my cheeks. I didn’t know what to do then. I was really confuse. The only thing that occurred to my mind was to get away from there. I ran to the lift and pressed the lift button down uncontrollably. My cheeks were wet of my tears.

I could see Phil running after me. “Reese, please wait! I can explain what has happened”, he said. He held my hand tightly and before I could reach the opened lift door, he pulled me into his arms. I tried to fight him, but he was too strong. So, I shouted, “Let me go! I don’t want to hear anything from you any more!”.

“Phil, who is she? Is she your new girlfriend?” I could hear the night gown girl asked from the room.

“Jeanette! Go home right now, please!”, Phil shouted at the girl.
After she left, I was still in Phil’s embrace. I was shaking really badly and I still couldn’t believe that he had betrayed me.

“Reese, I’m sorry, I don’t mean to betray you. I’m still loving you. She means nothing to me. Please…, trust me”.

“……. If, .. if, she is nothing to you. Then why did you sleep with her?” I still couldn’t controlled my cry.

“Because I feel so lonely here”, he answered. But, I didn’t agree with his words, “Then, why don’t you ask me either to come here or even call me? Why?!” I was shouting again.

“I… I…” “Huh! You can’t answer it properly, eh? Ok, that’s enough Phil Blush! I’m done with you!” And then I pulled myself off his embrace and left him alone there. I let him think of what he had done to me. I tried to encourage myself. And convinced myself that it was all his fault. He did the same thing as what my ex-boyfriend had done to me. And I have had enough with all the betrayers. It hurt very much for being betrayed.

On my way home, I kept asking myself “What is my fault? Why do those guys who I cared so much betrayed me?” Ohh… I wonder when my true charming prince will come.

When I got home, I told my parents everything and in turn, they told Phil’s parents. And now, I have to start my new life, waiting for the true love to come. And I don’t know who will be my true prince.


The End